KOLABORASI PENTAHELIX DIGITAL TERINTEGRASI PENGENDALIAN TUBERKULOSIS

      Comments Off on KOLABORASI PENTAHELIX DIGITAL TERINTEGRASI PENGENDALIAN TUBERKULOSIS

 

 

 

 

 

 

 

  • Tahun : 2026
  • Penulis : Sulaiman – Anggriani Maryaningsih – Roni Gunawan Joharmi
  • ISBN :
  • Penerbit : IKH Press
  • Lokasi : Medan-Sumatera Utara
  • Jumlah Halaman : 125 halaman

Buku Kolaborasi Pentahelix Digital Terintegrasi Pengendalian Tuberkulosis karya Sulaiman, Anggriani, Maryaningsih, Roni Gunawan, dan Joharmi (2026) membahas pentingnya pendekatan kolaboratif dan pemanfaatan teknologi digital dalam memperkuat upaya pengendalian tuberkulosis (TBC) di Indonesia. TBC masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang kompleks karena tingginya beban kasus, kesenjangan penemuan kasus, rendahnya kepatuhan pengobatan, kejadian loss to follow-up, resistensi obat, serta stigma sosial yang dialami pasien. Berbagai permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian TBC tidak dapat hanya mengandalkan pelayanan kesehatan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai sektor secara terpadu untuk mendukung pencapaian target eliminasi TBC tahun 2030.

Buku ini menguraikan transformasi digital dalam pelayanan kesehatan melalui konsep digital health, yang mencakup e-Health, m-Health, telemedicine, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan Internet of Medical Things. Pemanfaatan teknologi tersebut memberikan peluang untuk meningkatkan deteksi dini, memantau kepatuhan pengobatan, mempercepat pelaporan kasus, serta memperkuat pertukaran informasi antar fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, buku ini menjelaskan konsep kolaborasi Pentahelix yang melibatkan lima unsur utama, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Setiap unsur memiliki peran strategis yang saling melengkapi, mulai dari penyusunan kebijakan, pengembangan inovasi berbasis bukti, penyediaan sumber daya, pendampingan pasien, hingga penyebarluasan informasi dan edukasi kepada masyarakat.

Kontribusi utama buku ini adalah pengembangan model TB-Connect 2.0, yaitu platform digital terintegrasi yang dirancang sebagai sarana komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian TBC. Model ini memiliki lima fitur utama, meliputi pengingat pengobatan (reminder), pemantauan pasien (patient monitoring), pelaporan digital, komunikasi lintas sektor, dan dashboard data secara real-time. Implementasinya dilakukan melalui tahapan peningkatan kapasitas pengguna, penerapan platform digital, penguatan koordinasi lintas sektor, monitoring dan evaluasi, serta perbaikan berkelanjutan. Hasil kajian dalam buku menunjukkan bahwa penerimaan teknologi, kemudahan penggunaan aplikasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, integrasi data, dan sinergi antarpemangku kepentingan merupakan faktor penting dalam mendukung efektivitas model. Pendampingan kader, komunikasi interpersonal, dan kunjungan rumah juga tetap diperlukan sebagai pelengkap pelayanan berbasis digital, terutama bagi pasien yang berisiko mengalami putus pengobatan.

Secara keseluruhan, buku ini menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian TBC membutuhkan integrasi antara inovasi teknologi, tata kelola kolaboratif, penguatan kapasitas sumber daya manusia, dan pemberdayaan masyarakat. Implementasi TB-Connect 2.0 memiliki potensi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan, mempercepat koordinasi dan respons pelayanan, memperkuat penemuan kasus, serta meningkatkan kualitas program pengendalian TBC. Namun, keberlanjutan model masih memerlukan dukungan kebijakan dan pendanaan, pemerataan literasi digital, ketersediaan infrastruktur, pembagian peran yang setara, serta perlindungan data pribadi pasien. Oleh karena itu, buku ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, pengelola fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan sistem pengendalian TBC yang lebih terintegrasi, partisipatif, adaptif, dan berkelanjutan menuju eliminasi TBC di Indonesia.